Perjalanan Kota Jogja – Wonosari

Perjalanan Kota Jogja – Wonosari


“Koe berani ra makan walang?” tanya teman ayah saya di mobil saat kita sedang dalam perjalanan Kota Jogja-Wonosari. Saya langsung bertanya “Walang ki opo to tante?” dengan bahasa Jawa yang kagok.

Minggu lalu saya dan ayah saya pergi ke Jogja, mengunjungi kota dimana ayah saya lahir dan besar. Saya mengajak beliau ke Jogja karena saya ingin mengalami “father-daughter bonding time”. Yah, ayah saya juga sudah tua, saya pikir saya nggak mau mengsia-siakan waktu.

Sampai disana, hari pertama saya langsung diajak makan siang oleh ayah saya. Dia bilang dia diajak oleh dua temannya. Saya kira lelaki. Ternyata saat saya tiba di suatu toko aquarium untuk menjemput dua orang ini, yang saya lihat adalah sosok 2 perempuan setengah baya. Pertanyaan saat bertemu saya untuk PERTAMA KALINYA pun langsung menjurus ke ranah perkawinan, perjodohan, dan pacaran.

Kami berempat naik ke mobil, ayah saya yang galau dan ga mau pusing ini pun menyerahkan pilihan tempat makan kepada dua ibu-ibu ini. Tante Iiek, yang sebaya ayah saya dan heboh ngomongin perjodohan, membalas “wes, tanya Tante Jan Hong wae. Dia paling suka keliling sana-sini.”

Akhirnya, tante Jan Hong, yang paling muda antara tiga, memberikan kita tantangan. “Ok, kubawa ke Wonosari gimana? Enak makanan disitu. Tapi 1 1/2 jam lho nyetirnya. Berani?” Perut saya sebenernya udah berasa asem banget. Tapi, karena nggak enak sama mbah-mbah ini, ya saya ikut aja.

Setelah perjalanan yang lumayan panjang, tapi alangkah indahnya (serius nih, bukan lagu doank). Kita tiba di suatu restoran lesehan, namanya “Lesehan Pari Gogo”.

2014-04-24 08.15.24 1

Saat ke dalam, suasananya ya biasa saja. Lumayan bersih, sangat sederhana, dan banyak orang rame-rame duduk di lantai sambil makan. Langsung saya ditawari makan ini oleh tante Jan Hong:

2014-04-24 08.15.22 1

Ini lho yang dimaksud dengan Walang, alias Walang Keke, alias belalang suber gede. Digoreng pake bawang putih dan garam (ini saya nggak nanya siapa-siapa, cuman dari rasa doank). Dan yap, saya makan. Dan menurut saya… ini enak! Crunchy-crunchy-asin-gimana-gitu. Aneh ya?

Di tempat ini kalau datang setelah jam 11, yang disajikan adalah nasi merah. Health conscious juga ya? Yang enak disini adalah daun singkong dan babat goreng. Hal lain yang aneh untuk dicobain adalah oseng-oseng kepompong. Katanya sih penuh protein dan bagus untuk kulit. Rasanya biasa aja menurut saya. Nggak bikin nagih kayak si walang. 

Ok, cukup ya tentang walang? Maaf kalo ada yang mual ngeliat fotonya. Rasanya nggak bikin mual kok. :P

Lalu saya jalan turun ke Jogja dari Wonosari untuk kembali ke Jogja. Setelah sekitar 3/4 perjalanan (kayaknya.. Saya terlelap tidur ngedengerin ocehan mbah-mbah 3 ini dalam bahasa Jawa campur Mandarin ala ala Indonesia), kita berhenti di satu tempat di pinggiran Gunung Kidul.

Namanya “Bukit Indah Jogja”. Dan, ini yang saya harus saksikan begitu masuk ke dalam tempat ini:

2014-04-24 08.15.00 1

Ladies & Gents, I present to you… Daerah Istimewa Yogyakarta. It’s an absolute beauty.

Saya sangat senang bisa kembali ke Jogja. Bagi saya kembali ke Jogja berarti kembali ke tradisi yang membentuk setengah dari tradisi yang saya pegang (saya setengah Melayu, setengah Tionghoa). Akan saya ceritakan lagi tentang kembali ke “tradisi” ini di post yang selanjutnya….

Untuk sekarang, siapa yang berani coba walang?

Caranya ke Lesehan Pari Gogo:
1. Dari Kota Jogja, naik ke Gunung Kidul arah ke Wonosari
2. Setelah mendaki selama 45 menit, Anda akan menemukan pasar besar di Wonosari
3. Terus ikuti jalan raya
4. Anda akan melihat jembatan dari kejauhan, nah sebelum sampai di jembatan, di sebelah kanan jalan Anda akan menemukan restoran ini

Caranya ke Bukit Indah Jogja:
1. Dalam perjalanan Jogja-Wonosari atau Wonosari-Jogja, Anda akan menempuh Gunung Kidul
2. Kalau dari Wonosari, Anda pasti akan menyadari pemandangan yang luar biasa di sebelah kiri Anda saat melewati Gunung Kidul.
3. Nah, di sebelah kiri jalan, setelah beberapa warung lesehan, cari restoran yang bernama “Bukit Indah Jogja”
4. Pesan pisang goreng.

Caranya makan walang bagi yang takut-takut-tapi-penasaran:
- Tutup mata, makan, kedap-kedip, telen

Saya berterima kasih kepada 3 orang yang sudah menemani saya sepanjang perjalanan Jogja-Wonosari.

2014-04-24 08.14.14 1

+ There are no comments

Add yours