Celah Indah di Ketinggian 2.400 mdpl Itu Bernama Ranukumbolo

Celah Indah di Ketinggian 2.400 mdpl Itu Bernama Ranukumbolo


Kon bukan arek ngalam lek belum nginjek mahameru

Kalimat provokatif itu saya dapat sekitar bulan Mei 2013, dimana saya masih hangat sebagai aktivis mahasiswa. Suka lompat dari satu kepanitiaan ke kepanitiaan lainnya, ada di dalam struktur organisasi kampus, hingga dikenal dikalangan dekanat fakultas. Kalimat itu diucapkan oleh teman sekelas saya, dia melihat saya terlalu sibuk dengan urusan kampus. Seketika saya terpikir juga, “wah iya juga ya, kayaknya seru nih kalo naik gunung”. Akhirnya dengan nada sedikit menantang, saya mengajak teman saya untuk mencoba tracking ke puncak tertinggi Jawa, Mahameru.

IMG-20130618-00842

Mahameru terletak di Gunung Semeru, sebuah wilayah yang ada di dalam naungan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, tergabung juga wilayah Gunung Bromo di dalamnya. Taman Nasional Bromo Tengger Semeru terletak di dalam 4 kabupaten, yaitu Kab. Malang, Kab. Pasuruan, Kab. Probolinggo, dan Kab. Lumajang di Jawa Timur. Taman ini ditetapkan pada tahun 1982 dengan luas wilayah sekitar 50.276,3 ha. Tinggi Gunung Semeru yang mencapai 3.676 mdpl membuat gunung ini merupakan gunung tertinggi di Pulau Jawa.

Namun, sadar akan rutinitas yang membelit selama ini, saya merasa akan tidak mampu untuk mengambil resiko tracking ke mahameru. Menurut teman saya, diperlukan persiapan fisik yang cukup untuk menaklukan mahameru, minimal lari pagi selama satu minggu non-stop. Akhirnya, dengan ambisi yang masih besar, saya mengajak beberapa teman untuk tetap mencoba menaklukan Gunung Semeru, tapi hanya sampai Ranukumbolo. Memang nama Ranukumbolo mulai tenar semenjak tayangnya film 5 CM yang memperlihatkan keindahan Gunung Semeru dan Ranukumbolo. Ranukumbolo adalah sebuah danau yang terletak di ketinggian 2.400 mdpl.

Saya berangkat dari Malang sekitar pukul 13.00 menggunakan sepeda motor menuju desa Ranupane, desa terakhir sebelum harus melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki menuju Ranukumbolo. Dengan sudah membawa perlengkapan camping dan obat – obatan tentunya, saya dan beberapa orang teman beriringan melewati jalur Tumpang, jalur terdekat menuju Ranupane. Perjalanan hanya saya tempuh dalam waktu 2 jam dengan kecepatan yang biasa, sekitar 60 km/jam.

Saya sarankan, sebelum tiba di desa Ranupane, isi perut sepenuh mungkin dan lengkapi semua perlengkapan mulai dari baterai untuk senter hingga minyak tanah untuk api unggun atau obor. Karena di Desa Ranupane sudah tidak ada warung yang menjual beberapa perlengkapan yang mungkin sangat kita perlukan pada saat tracking. Di Desa Ranupane, saya menitipkan motor di parkiran yang sudah disediakan, tarifnya Rp 5.000,00 per hari. Di Desa Ranupane juga kita diwajibkan mendaftar dan mendata semua anggota kelompok yang akan tracking ke Ranukumbolo. Semua data mencakup nama anggota, lama kita tracking, hingga perlengkapan apa saja yang kita bawa. Lama tracking diperlukan apabila kita tracking melewati batas waktu yang kita tentukan, maka kita akan dianggap hilang dan aka nada tim pencari yang akan mencari kita, sedangkan data perlengkapan diperlukan untuk meminimalisir potensi kerusakan alam yang diakibatkan oleh para pendaki, maka dari itu setiap perlengkapan yang kita bawa seperti tenda, kompor, dan semacamnya dikenakan tarif khusus yang berbeda dari tarif masuk kawasan Gunung Semeru. Maka saya sarankan, bawa perlengkapan secukupnya saja ya.

Di dalam kelompok saya terdapat beberapa orang perempuan. Maka perjalanan kelompok saya agak tersendat karena perempuan lebih banyak memerlukan istirahat. Saya memulai perjalanan kaki pukul 4 sore dan sialnya terjebak hingga harus menempuh perjalanan dalam keadaan gelap malam. Untuk mencapai Ranukumbolo, kita akan melewati 4 pos. Pos ini berbentuk sebuah bangunan untuk kita beristirahat. Sialnya, sebelum kelompok saya tiba di pos pertama, malam sudah menjelang. Namun, jangan pernah menyesal tracking pada malam hari, kepala saya terus menengadah ke atas melihat banjir bintang di atas kepala saya. Percaya atau tidak, saya serasa bisa menyentuh kumpulan bintang yang saya yakin tidak akan bisa kita lihat dari kota besar.

Singkat cerita, saya tiba di Ranukumbolo pada pukul 9 malam, itu berarti saya menempuh waktu 5 jam perjalanan. Suhu malam itu mencapai 10 derajat dan jaket tebal yang saya sudah tumpuk 4 di dalam badan gagal melindungi saya dari dinginnya Ranukumbolo. Dengan cepat saya dan teman membangun tenda dan beberapa perempuan mempersiapkan makan malam. Kesalahan fatal dari saya dan teman yang merupakan pendaki pemula, kami hanya membawa mie instan sebagai makanan pokok. Sedangkan kami akan berada di Ranukumbolo selama 3 hari 2 malam.

IMG_0161

Pada malam itu, saya tidur lebih cepat. Tujuannya adalah tentu menangkap moment matahari terbit dari belahan 2 bukit kembar. Sialnya, pagi itu kabut terlalu tebal. Suhu sudah mencapai 2 derajat dan embun berubah menjadi es di atas tenda saya. Ketika matahari perlahan naik, suhu mulai menghangat. Hal ini juga terulang pada pagi berikutnya. Saya agak kesal ketika tidak berhasil menangkap moment matahari terbit yang ‘katanya’ sangat indah dari celah bukit kembar.

Namun, jangan tanya soal keindahan Ranukumbolo! Saya tidak bisa mengungkapkannya dengan beberapa kata. Kamu, kalian, kita harus kembali ke Ranukumbolo. Entah dengan membawa mitos bukit cinta, oleh – oleh bau badan yang menyengat, atau banyak lecet di beberapa anggota tubuh. Ranukumbolo adalah tempat yang cocok bagi kita untuk menyendiri. Dimana tidak ada hiruk pikuk keramaian kota besar, dimana bebas dari sinyal dan lalu lintas media sosial, tempat yang cocok untuk kita saling bicara dari hati ke hati sesama manusia, berbicara soal hubungan dan interaksi sosial yang sesungguhnya.

 

ranukumbolo

Untuk kamu, bawa pasangan atau gebetan ke Ranukumbolo. Nyatakan perasaan mu ke dia di bawah ribuan bintang pada malam hari, atau biarkan matahari terbit menjadi saksi perasaan kamu ke dia. Cielah. Ranukumbolo is most romantic place ever.

RakaRaka Eka Pramudito
@rakapramudito

Director of Life

+ There are no comments

Add yours