Pantai Sarwana – Surga di Tanah Banten

Pantai Sarwana – Surga di Tanah Banten


Desa Sawarna terletak di provinsi Banten. Desa yang dulunya merupakan desa adat ini menawarkan pesona alam yang lengkap. Karena selain dimanjakan oleh keindahan pantai nya, pengunjung juga bisa menikmati pesona pedesaan lewat sawah-sawah yang membentang luas. Belum lagi keberadaan beberapa buah gua kars di tempat ini yang sayang jika dilewatkan begitu saja.

sawah

Saya berkesempatan mengunjungi Desa Sawarna selama 3 hari 2 malam bersama Mr. R. Karena menggunakan jasa travel, hampir semua keperluan utama seperti transportasi, penginapan, makan dan guide sudah disiapkan. Kami berangkat pukul 22.00 WIB dari Jakarta menggunakan mini bus. Jalanan terasa mulus hingga ke Kecamatan Bayah, namun selepas Kecamatan Bayah, kondisi jalan mulai berbatu-batu dengan turunan tajam sampai 60 derajat. Setelah menempuh 7-8 jam perjalanan dan seiring terbitnya matahari, kami pun tiba di Desa Sawarna.

Untuk mencapai homestay, kami harus melewati jalan masuk desa berupa jembatan gantung yang bergoyang-goyang ketika dipijak. Kami juga melewati areal persawahan yang lumayan menyegarkan mata. Setelah sampai dan mendapat pembagian kamar, kami beristirahat sejenak.

Acara hari itu dilanjutkan dengan mengunjungi Gua Lalay, salah satu obyek wisata berupa gua karst (gua yang terbentuk akibat adanya rembesan air) yang terkenal di desa Sawarna. Jarak tempuh antara homestay dengan Gua Lalay adalah sekitar 6-7 km dengan berjalan kaki. Bagian dasar gua merupakan sungai bawah tanah yang berlumpur dengan ketebalan 10 sampai 15 cm sementara ketinggian air kira-kira sebatas lutut. Di bagian atas gua ada beberapa kelelawar yang hinggap (dalam bahasa sunda, Lalay artinya Kelelawar). Sayang perjalanan ke dalam Gua Lalay dihentikan hingga kedalaman 200 meter karena kondisi udara yang makin sedikit, gelap dan bagian gua yang menyempit dengan stalagtit dan stalagmit sehingga tidak aman diteruskan jika tidak memakai helm.

gua

Sehabis susur gua, perjalanan dilanjutkan menuju Pantai Legon Pari. Naik turun bukit dan tebing berlumpur, melewati sawah dan menyeberangi sungai. Melelahkan, kotor tapi SERU! Sesudah berjalan kaki kira-kira 2 jam, kami pun tiba di Pantai Legon Pari, satu-satunya pantai di Desa Sawarna yang cocok untuk berenang karena ombaknya yang relatif tenang. Beberapa formasi batu karang yang unik dan indah juga dapat ditemukan disini.

pantai banten

Setelah puas bermain, kami kembali berjalan kaki ke obyek wisata yang menjadi ikon dari Desa Sawarna yaitu Pantai Tanjung Layar. Pantai dengan 2 buah batu karang berbentuk layar yang mengembang. Bila sebelumnya perjalanan dilakukan melalui bukit, kali ini kami berjalan menyusuri pantai yang walaupun medan nya lebih landai dan tidak berlumpur, namun perjalanan nya lebih menyakitkan karena banyak karang yang menusuk dan melukai kaki. Sampai di Tanjung Karang sudah hampir sunset. Sudah banyak orang yang bergerombol untuk menyaksikan matahari tenggelam. Kami pun tidak mau ketinggalan dan langsung bergabung.

562039_10150655257454023_1271659419_n

Keesokan harinya, sebelum kembali ke Jakarta kami mengunjungi satu gua lain di Desa Sawarna. Berbeda dengan Gua Lalay, gua yang satu ini merupakan gua yang kering dengan kelelawar yang lebih banyak. Pemandangan di tempat ini tidak kalah bagus. Cocok untuk pemberhentian akhir sebelum pulang.

pantai banten

Walaupun melelahkan, perjalanan ke Desa Sawarna sangat menyenangkan. Pemandangan pantai yang komplit dengan sawah dan gua seakan membuat pengunjungnya bangga memiliki tanah air yang begitu cantik.

jojoJosephine Brightnessa (Jojo) 
@jbrightnessa 
Ikuti cerita-cerita seru Jojo lainnya dengan follow Twitternya di: @jbrightnessa dan blognya hungrydinosaur.net

+ There are no comments

Add yours