Pulau Pari yang Lebih Menyenangkan

Pulau Pari yang Lebih Menyenangkan


Horeee, akhirnya saya berhasil lagi ke Pulau Seribu, dan kali ini mengunjungi Pulau Pari. Setelah perjalanan pertama Kepulauan Seribu sebelumnya yaitu Pulau Tidung, maka keinginan untuk mengunjungi lagi, terwujud sudah dengan mengunjungi Pulau Pari ini.

Modalnya nekat. Karena memang belum pernah sebelumnya. Bekal liat-liat petunjuk dan nanya-nanya akhirnya sampai juga saya di Pulau Pari nan semlohay itu. Saya naik perahu biasa yang dipakai buat ngangkut-ngangkutin para penumpang nan mencoba hipster dengan kondisi umpel-umpelan tapi masih asik aja karena emang dibawa asik. Dengan biaya Rp. 35.000,- perorang naik dari pelabuhan nelayan, bukan pelabuhan punya Dinas Perhubungan itu loh. Oiya, kalau naik dari pelabuhan kepunyaan Dinas Perhubungan memang lebih layak dan rapi, tapi kapalnya terbatas, jadi harusnya booking dulu mungkin.

pari1

Saya enggak snorkling, karena lagi pengen menikmati pantai saja. Karena yang namanya Pantai Perawan itu Subhanallah bagus banget. Bersih dan berpasir putih. Agak beda dengan pantai yang menghadap ke Jakarta seperti pantai pelabuhannya atau pantai LIPI, di bagian itu memang banyak sampah bawaan pulau seberang. Laut di depan pantai perawan punya dasar yang dangkal, jadi kita bisa jalan ke tengah laut sambil berendam main air. Jauhnya kira-kira sampai 500 meter. Saking dangkalnya memang gak bisa dipakai berenang. jadi cuma buat berendam aja.

Posisi sunrise dan sunset juga ada di Pantai Perawan, makanya pantai ini jadi spot paling laris. Mau foto-foto memang di sini tempatnya.

pari2

Tapi menikmati pantai LIPI juga gak kalah menyenangkan karena viewnya bagus dan bisa menelusuri semacam tanjung buatan ke tengah laut yang di ujungnya ada bangunan yang mungkin diperuntukan untuk kepentingan penelitian. Juga ada pelataran dari dak beton, kalau bawa alat pancing bisa mancing di sana.

pari3

Menikmati pantai dan laut doang aja udah puas banget rasanya. Jadi abis ini mau posting foto-foto aja ya :D

pari

Seperti di pulau lainnya, kita bisa meminjam sepeda untuk mempermudah keliling-keliling pulau. Sewanya sekitar Rp 15.000,-

Untuk memenuhi kebutuhan makan lebih baik sekalian pesen ke penginapan, tinggal nambah Rp 20.000,- sekali makan. Si empunya penginapan biasanya menawarkan. Saya lakukan itu untuk sekali makan yaitu makan malam karena siang saya lebih memilih kelayapan jadi makan siangnya di warung aja, yang berarti cuma indomie rebus atau gorengan karena di pulau ini tak ditemukan semacam warteg atau rumah makan padang. Saya mencium aroma konspirasi wahyudi di sini… *elus elus dagu*

Pulang siang hari besoknya dan saya kembali naik kapal biasa yang tentu saja bayar lagi Rp. 35.000,- dengan sebelumnya tak lupa makan otak-otak yang banyak dijual di sekitar pelabuhan.

Dan saya pulang dengan hati senang tralalalala…trilililili… mari kita mencari pantai lagi….

nb: harga penginapan di sini Rp 300an ribu per rumah, akan lebih murah lagi jika weekday. Kalau punya tenda saya rekomendasikan pakai tenda saja di pinggir pantai.

IcitIcit
@icit_
Blogger, traveller, eater, pluser, Android abuser, social-media junker, reviewer, random person, nasi-padang fangirl, anything.

 

+ There are no comments

Add yours