Konspirasi Kawa Daun di Tanah Minang

Konspirasi Kawa Daun di Tanah Minang


Bulan maret yang lalu, tiba-tiba saya ditugaskan untuk business trip ke Padang, Sumatera Barat. Sebelumnya, sudah pernah ke Padang, tepatnya Padang Panjang, selama beberapa hari untuk business trip juga. Dan well, sudah bisa ditebak, seperti kunjungan pertama ke Padang, pasti tidak punya banyak waktu untuk menikmati kota Padang karena padatnya jadwal project kantor.

Tapi, ditengah-tengah kesibukan ternyata semesta punya sedikit konspirasi yang baik, di kunjungan yang kedua ini saya menemukan sesuatu yang menarik. Jadi, karena saya sudah terlalu bosan dengan masakan hotel, akhirnya saya memutuskan untuk jalan keluar, siapa tahu ada makanan yang asyik di sekitar hotel. Setelah berputar sekitar 20 menit akhirnya saya memutuskan untuk masuk ke salah satu cafe (maaf lupa nama cafenya). Sedikit gambaran tentang cafenya, kalau readers pernah sengaja atau tidak sengaja menonton sinetron populer di televisi swasta dan ada adegan yang ber-setting di sebuah cafe, yah well, kurang lebih seperti itulah cafenya, lol!

Nah, di cafe ini lah, sang semesta berkonspirasi. Ketika saya membaca menunya, di halaman depan ada tulisan Kawa Daun berikut dengan harganya tetapi anehnya tidak ada gambar dan keterangan apa itu Kawa Daun pun tidak ada. Bahkan saya tidak tahu itu makanan atau minuman. Buat saya ini menarik, karena saya tipe orang yang punya high curiosity, suka dengan hal-hal yang baru dan unik. Akhirnya saya panggil waitress-nya, dan bertanya, “Mbak, Kawa Daun ini makanan apa sih?” Dengan sedikit muka bingung mbaknya menjawab, “Oh anu kak…itu bukan makanan tapi minuman, dari Kawa Daun. Jadi seperti kopi tapi dari daun kopi muda gitu kak.”

padang_kawa_daun_2

Oke, minuman seperti kopi tapi dari daun kopi muda? Seketika itu juga saya merasa seperti Leonardo DiCaprio di film Jango! “Kawa Daun, you had my curiosity, but now you have my attention!” Hahaha, okay itu lebay. Akhirnya saya pesan satu Kawa Daun yang original, karena saya penasaran dengan rasa aslinya seperti apa. Ternyata, penyajiannya cukup unik, Kawa Daun ini disajikan di batok atau tempurung kelapa yang diberi tatakan dari bambu, dengan gula cair yang terpisah. Saya coba meminumnya tanpa gula, karena selain memang tidak terlalu suka dengan minuman yang terlalu manis, saya ingin tahu terlebih dahulu rasa aslinya seperti apa. Rasanya? Well, sangat jauh dari kopi, rasanya malah seperti teh tawar yang segar tapi punya aroma kopi yang gurih. Kafeinnya? Well, jangan salah, sekalipun terbuat dari daunnya ternyata Kawa Daun juga mengandung kafein, tetapi dalam kadar yang lebih rendah. Wow! Surprisingly, saya suka dan ketagihan.

Sambil menikmati Kawa Daun yang saya pesan, saya coba googling tentang Kawa Daun, karena masih penasaran. Ternyata, Kawa Daun adalah minuman tradisional masyarakat Minangkabau terutama di daerah Batusangkar, Bukit tinggi, Sawahlunto, dan Payakumbuh, justru jarang ada di kota Padang sendiri. Berdasarkan sejarahnya, di era kolonial Belanda, masyarakat Minangkabau diperintahkan untuk menanam kopi. Kemudian, dalam aturan tanam paksa Belanda, masyarakat Minangkabau tidak diperkenankan untuk menikmati kopi yang ditanam dan semuanya harus diserakan ke Belanda untuk dijual. Akhirnya, karena ingin coba menikmati kopi, masyarakat Minangkabau menggunakan daun kopi yang masih muda. Daun kopi ini dikeringkan dengan cara disangrai selama 12 jam, dan setelah kering diseduh dengan air mendidih, seperti teh.

padang_kawa_daun_3

Besoknya, saya coba bertanya ke teman-teman di Padang, dimana saya bisa beli Kawa Daun untuk dibawa pulang ke Jakarta, niatnya sih untuk diminum sendiri sekalian jadi oleh-oleh. Aneh tapi nyata, tidak ada yang tahu dimana saya bisa membelinya di kota Padang, karena Kawa Daun adanya hanya di daerah dataran tinggi. Setelah tanya sana sini tanpa hasil, malam kedua saya kembali lagi ke cafe itu dan pesan Kawa Daun lagi, tapi kali ini saya pesan Kawa Daun Susu dan ditemani dengan durian goreng, buah durian yang digoreng tepung. Rasa kombinasinya? Sudah pasti enak!

Sambil menikmati keduanya, saya coba tanya-tanya dengan pegawai di sana, dimana mereka mendapatkan Kawa Daunnya dan apakah saya juga bisa ikut beli. Ternyata ada supplier yang mengirimkan stok Kawa Daun setiap minggunya dari Batusangkar dan saya tidak bisa beli mentahnya. Sekembalinya ke hotel, saya iseng-iseng tanya security hotel, iseng-iseng berhadiah. Katanya kemungkinan ada di toko oleh-oleh Christine Hakim, salah satu toko oleh-oleh terbesar yang ada di kota Padang. Besoknya, sebelum kembali ke Jakarta, saya sempatkan ke sana dan ternyata memang ada! Dijual dalam kemasan yang menarik dengan harga 15.000 rupiah untuk 15 tea bag. Well, sekali lagi alam berkonspirasi dengan indahnya di kota Padang!

RakaPurwoko Adhi Nugroho (Wok)
@woknugroho

A social worker and nerd in one package. Curiosity, is his middle name.

+ There are no comments

Add yours