Mengejar Mie, Kopi, dan Matahari di Ujung Barat

Mengejar Mie, Kopi, dan Matahari di Ujung Barat


Kalau teman-teman mendengar kata Aceh, apa hal yang pertama kali terlintas di pikiran? Kalau saya sih sudah pasti Mie Aceh dan Kopi Aceh! Maklum, saya memang pecinta makanan tradisional dan penikmat kopi. Jadi, ketika saya mendapatkan tugas dari kantor untuk survey beberapa hari ke Aceh, secara otomatis langsung terbayang nikmatnya Mie Aceh dengan bumbu rempahnya yang kuat dan aroma Kopi Aceh yang harum. Belum lagi terbayang kira-kira pemandangan menarik atau kuliner yang asik lainnya yang saya belum tahu. Sampai lupa diri kalau masih di depan Assistant Director kantor, untungnya dia engga sadar kalau saya sudah drooling….iya, drooling.

Well, saya memang tergolong beruntung, karena pekerjaan saya mengharuskan untuk pergi ke daerah lain untuk mengadakan project-project atau sekedar survey untuk perencanaan. Akhirnya, berangkat lah saya ke provinsi terujung barat Indonesia, Aceh. Setelah penerbangan sekitar 3 jam, saya mendarat di bandar udara Sultan Iskandar Muda. Kesan pertama saya ketika saya turun dari pesawat, udaranya masih bersih dan pemandangannya sejuk di mata. Lumayan, paru-paru saya bisa berlibur sejenak dari asap kendaraan bermotor di jalanan Jakarta dan mata saya pun bisa beristirahat dari warna-warni papan komersial dan gemerlap lampu yang menyilaukan mata.

Gambar 1

 

Di bandara, saya sudah ditunggu oleh teman-teman dari NGO lokal yang akan bekerja sama dengan kantor saya, setelah berkenalan dan sedikit berbasa-basi kami langsung berangkat menuju site. Baru sekitar 10 menit di jalan, tiba-tiba Mas Akmal bertanya,

Mas Kiki: Mas Adhi lapar tidak?

Saya: ohh….ya lapar sih mas hehe

Mas Kiki: ya sudah, kita makan dulu saja, mau makan apa mas?

Saya: MIE ACEH MAS!! (dengan mata berbinar-binar, tanpa malu dan tanpa dosa)

Mas Akmal: hahaha tampaknya lapar kali tamu kita satu ini (dengan logat Aceh)

Saya: hahaha……..

Jadi, untuk teman-teman yang belum pernah makan Mie Aceh, Mie Aceh itu mie pedas khas Aceh, yang unik dari Mie Aceh adalah mienya yang kuning dan tebal, dan rasa pedasnya yang berasal dari bumbu rempah-rempah yang digunakan. Biasanya Mie Aceh disajikan dengan irisan daging sapi, daging kambing, cumi, udang, atau kepiting, dan tersedia dalam dua jenis, goreng atau kuah dengan sup sejenis kari yang pedas dan gurih. Mie Aceh favorit saya adalah Mia Aceh Kuah Kepiting, biasanya saya pesan itu di rumah makan Aceh favorit saya di Jakarta. Jadi, ini kesempatan buat saya merasakan Mie Aceh yang dimasak di tanah Aceh, dan ternyata saya cukup kaget dengan Mie Aceh yang disajikan karena di menu yang saya pesan saya mendapatkan kepiting yang utuh!! Ini berbeda dengan Mie Aceh yang biasa saya makan di Jakarta, karena di Jakarta, kepiting yang disajikan sudah disuwir kecil-kecil. Selain itu, bumbu rempahnya jauh lebih kuat dan pedas, dengan porsi yang hampir dua kali dari yang biasa saya makan di Jakarta. Lebih enak, lebih pedas, lebih kenyang, lebih berkeringat!

mi aceh kepiting

Ketika tsunami Aceh terjadi di tahun 2004, mungkin readers pernah dengar tentang kapal generator listrik milik PLN Banda Aceh di laut lepas yang terseret ombak tsunami dan terdampar di daratan. Kapal generator listrik PLTD Apung I tersebut sekarang masih terdampar di daratan dan lokasi tersebut telah disulap menjadi objek wisata Monumen PLTD Apung I dan Tsunami Aceh. Setelah kami menghabiskan Mie Aceh, mereka membawa saya ke monumen tersebut di daerah Punge Blang Cut.

Gambar 3

Buat saya, Monumen PLTD Apung I dan Tsunami Aceh ini menarik, kenapa? Karena di dalam kompleks monumen ini selain ada PLTD Apung 1 dan Monumen Tsunami yang dilengkapi dengan jam tsunami dan relief, juga terdapat bangunan-bangunan yang tersisa dari tsunami tahun 2004. Bangunan tersebut memang sengaja dibiarkan dengan kondisi aslinya, untuk menunjukkan kondisi sebenarnya setelah tsunami terjadi. Selain itu, kita juga bisa naik ke atas kapal dan dari sana kita bisa melihat ke arah pantai (sekitar 2-3 km) dimana air tsunami datang. Monumen ini, kurang lebih mengingatkan saya dengan monumen yang ada di Pompeii, yang melestarikan kota Pompeii yang terkubur karena letusan Gunung Vesuvius di tahun 79 masehi. Kedua monumen ini merupakan penanda betapa besarnya kekuatan alam yang selalu mengingatkan kita untuk bersahabat dengan alam.

Gambar 4 Gambar 5 Gambar 6Gambar 7

Perjalanan kami lanjutkan, dan kami langsung menuju ke penginapan, karena sudah maghrib, mereka pun hendak menunaikan ibadah Sholat Maghrib. Di sini ada satu percakapan yang menarik buat saya,

Mas Zulfan: Mas Adhi, sekarang sudah maghrib, boleh kami Sholat Maghrib sebentar?

Saya: oh, ya tentu saja boleh mas, kan memang sudah waktunya, sebaiknya memang disegerakan untuk Sholat Maghrib

Mas Zulfan: terima kasih mas, kalau begitu kita ke Masjid Baiturrahman Raya saja ya, kalau kita ke sana ada obyek foto untuk Mas Adhi sambil menunggu kami selesai Sholat Maghrib

Oke, mungkin percakapan tersebut memang sederhana, tapi buat saya sangat berarti. Mereka tahu bahwa saya non-muslim dan mereka sangat menghormati saya. Saya agak kaget ketika mereka meminta izin untuk Sholat Maghrib, karena menurut saya seharusnya mereka tidak perlu sampai meminta izin karena memang sudah kewajiban mereka sebagai muslim dan saya sangat memaklumi itu. Tetapi, mereka dengan sopannya meminta izin untuk beribadah, dan lebih dari itu mereka juga sempat memikirkan kegiatan yang bisa saya lakukan sambil menunggu mereka beribadah. Jujur, untuk pertama kalinya saya memiliki pengalaman seperti ini karena biasanya dengan teman-teman saya baik kuliah maupun kantor, ketika mereka sholat ya mereka sholat saja, buat saya itu sudah suatu kewajaran. Sementara di sini, kami baru saja kenal, tetapi saya sudah bisa merasakan kehangatan toleransi beragama mereka. Iya, hangat memang.

Gambar 8

Aceh adalah Negeri Seribu Warung Kopi, jadi di hari berikutnya, sebelum beraktifitas, mereka membawa saya untuk merasakan nikmat dan harumnya Kopi Aceh di Warkop Solong di Ulee Kareng. Kopi robusta Solong ini menurut pendapat teman-teman di Aceh memiliki aroma kopi yang paling kuat dan harum, well ya memang terbukti. Aroma kopi yang diolah sudah tercium dari jarak sekitar 50 meter. Satu hal yang menarik tentang Kopi Aceh, ternyata kopi merupakan bagian dari budaya di Aceh. Kopi adalah bagian dari kehidupan sehari-hari dan menjadi media komunikasi yang digunakan di Aceh. Kok bisa? Well, budaya ngopi merupakan budaya untuk bersosialisasi di Aceh, masyarakat Aceh bisa menghabiskan waktu berjam-jam di warung kopi. Jadi lah pagi itu, kami mengadakan rapat impromptu di warung kopi Solong Ulee Kareng, sambil sesekali menikmati sesapan kopio robusta.

kopi aceh

Ternyata, kopi yang disediakan di warung kopi Solong di Ulee Kareng, diproduksi sendiri di belakang warung kopi. Berkat bantuan Mas Kiki, saya diizinkan untuk mengintip ke belakang, untuk melihat proses pembuatannya. Pembuatannya masih manual, tidak seperti kopi-kopi instan yang dijual di swalayan di kota-kota besar. Sayangnya, ketika saya mengintip, mereka tidak sedang mengolah kopi, tapi saya tetap boleh masuk dan mengambil foto dari biji kopi yang telah dimasak dan siap untuk diolah dan juga kopi-kopi yang sudah dikemas. Ternyata, di warkop ini kita juga bisa membeli kopi bubuk untuk dibawa pulang dan harganya cukup murah IDR 25K untuk 1/4kg, IDR 50K untuk 1/2kg, dan IDR 95K untuk 1kg. Saya pun membeli dengan total 3kg dalam berbagai kemasan untuk dinikmati sendiri dan untuk oleh-oleh.

Gambar 10Gambar 11

Sebelumnya, kami merencanakan untuk menghabiskan sore hari di Pantai Lampuuk sambil menunggu matahari terbenam. Tetapi, karena kami terlalu lama di warung kopi Solong dan survey, kami sedikit terlambat untuk berangkat ke Pantai Lampuuk. Pantai Lampuuk, sebelum tsunami di tahun 2004, merupakan salah satu pantai yang terkenal dan hanya terletak 15 km dari Banda Aceh. Sekarang, Pantai Lampuuk sudah dibuka kembali untuk pariwisata, meskipun belum seramai dulu.

Gambar 12 Gambar 13

Akhirnya, kami pun mengejar matahari ke Pantai Lampuuk, karena kami (lebih tepatnya saya) tidak ingin ketinggalan momen terbenamnya matahari di ujung Barat Indonesia. Saat kami tiba di sana, hari sudah semakin sore, tetapi untungnya alam masih baik kepada kami, matahari terbenam belum meninggalkan kami. Sore itu, saya menghabiskan sore saya dengan pemandangan matahari terbenam di Indonesia paling Barat yang pernah saya lihat. Harus saya akui bahwa pemandangan tersebut merupakan salah satu matahari terbenam paling indah yang pernah saya lihat. Lebih dari itu, saya bersyukur, karena di Lampuuk saya bisa merasakan lagi kehangatan dari teman-teman baru saya.

Gambar 14 Gambar 15

RakaPurwoko Adhi Nugroho (Wok)
@woknugroho

A social worker and nerd in one package. Curiosity, is his middle name.

+ There are no comments

Add yours