Pantai Ora, Harta karun terindah milik Pulau Seram

Pantai Ora, Harta karun terindah milik Pulau Seram


Salah satu tempat yang menjadi wish list destinasi incaran saya di Indonesia adalah Pantai Ora. Sejak pertama kali kakak saya menunjukan foto keindahan Pantai Ora, yess..saya langsung jatuh cinta dan berjanji suatu hari akan membuktikan keindahannya secara langsung. Berhubung saya tipe traveler yang suka dadakan, disesuaikan dengan situasi kerjaan. otak, badan dan kantong, jadilah perjalanan ke Pantai Ora pada tanggal 5-8 November 2014 kemarin juga bersifat dadakan.

Dalam trip dadakan ini saya mengajak seorang teman yang memang dari dulu selalu menagih saya untuk membawa serta dia saat berburu keindahan alam di Indonesia. Profesinya sebagai seorang terapis Brain Gym, memungkinkan dia mengatur jadwal prakteknya sendiri, jadi bisa saya culik deh…hehehe. Kami melakukan booking resort, pesawat dan cek cuaca setempat hanya 3 hari sebelum keberangkatan. Beruntung saya masih mendapatkan kamar di Ora Beach Eco Resort, karena biasanya wisatawan harus booking 1 bulan sebelum keberangkatan apalagi jika ingin menginap di kamar lautnya yang terkenal. Ya meskipun kami tidak dapat di kamar laut, karena sudah full book sampai tanggal 20 November 2014, Kamar gantung pun oke lah yang penting di Pantai Ora!

Pantai Ora terletak di Desa Saleman, Seram Utara, Kabupaten Maluku tengah. Posisi pantai ini persis berada di cerukan Pulau Seram di area Teluk Sawai. Di pantai inilah terdapat sebuah resort bernama Ora Beach Eco Resort, satu-satunya penginapan yang berdiri tepat di atas perairan pantai Ora lengkap dengan latar belakang Perbukitan Taman Nasional Manusela. Benar-benar sebuah perpaduan alam yang begitu fantastis hingga tidak rela melepas semua itu untuk kembali ke hingar bingar ibukota Jakarta.

Untuk bisa sampai di Pantai Ora, kita harus siap dengan perjalanan yang cukup panjang melalui udara, laut dan darat, komplit kan…hehe. But heittt jangan takut dulu … because it’s totally worth it, trust me!! Berikut ini adalah tahapan yang kemarin kami lewati untuk bisa tiba di Pantai Ora sekaligus dengan tips-tips singkat yang semoga bisa membatu kalian yang ingin mengunjungi Pantai Ora.

Reservasi

  • Waktu terbaik yang disarankan untuk berkunjung ke Pantai Ora adalah pada musim panas, yaitu sekitar bulan mei – September. Tapi tidak ada salahnya untuk selalu mengecek dulu kondisi cuaca dan arah angin di daerah yang akan kalian kunjungi melalui situs BMKG. Hal ini sangat penting kalau tidak mau mood liburan anda kacau dikarenakan kondisi cuaca hujan dan ombak besar.
  • Contact Person untuk reservasi di Ora Beach Resort:  Pak Alvin, 0813 3363 3338 (Owner), Pak Gel, 082238647141 (Manager OBR). Harga penginapan di Ora Beach Resort dihitung per orang, bukan per kamar. Harga variatif tergantung season, berkisar antara 1 -1,5 jt /orang per harinya, jika pergi beramai-ramai silahkan coba saja menawar harga. Harga tersebut sudah termasuk transportasi start dari Bandara Patimura, Ambon dan akomodasi selama berada di Ora Beach.
  • Terdapat 3 type cottage yang ditawarkan yaitu, 5 cottage laut dengan 1 kamar (favorit wisatawan), 1 cottage laut 3 kamar, 6 cottage gantung (berada tepat ditepi pantai) dan cottage darat.
  •   Belilah tiket pesawat paling pagi, pukul 00.00 / 00.30, dari Jakarta menuju Ambon. Waktu tempuh Jakarta – Ambon sekitar 3 jam (Batik Air) dan 5 jam (Garuda, transit di Makassar). Driver dari pihak Ora akan menunggu di bandara tepat pukul 07.00 waktu Ambon. Tiket PP Jkt-Ambon sekitar Rp 2.400.000,-/ orang.
  •  Terdapat perbedaan waktu 2 jam lebih cepat antara Ambon dan Jakarta.

Persiapan

  • Tidak disarankan membawa koper jika tidak mau ribet sendiri. Bawalah backpack dan tas kecil sesuai kebutuhan.
  • Bawalah obat-obatan, lotion anti nyamuk dan makanan kecil sendiri, karena tidak ada warung, puskesmas di kawasan Ora beach Resort. Kita harus menyeberang dulu dengan perahu motor ke Desa Saleman jika ingin mencari warung atau puskesmas. Jadi pastikan Anda dalam keadaan fit saat berangkat.
  • Bawa kamera, WAJIB! Kalau bisa sekalian dengan baterai cadangan. Jika memiliki underwater camera, pleaseee.. jangan sampai lupa dibawa! Jangan mengulangi kecerobohan saya yang meninggalkannya di Jkt, karena nyesek rasanya saat tidak bisa mengabadikan keindahan bawah laut Ora. (resort tidak menyediakan penyewaan underwater camera) hiikss…gigit jari.
  • Bawa colokan T, atau kalau mau bawa kabel roll juga boleh. Karena disetiap kamar hanya ada 1 stop kontak, dan listrik hanya dinyalakan dari jam 6 sore hingga jam 5 pagi. Jadilah harus mengantri…karena tidak hanya HP yang harus di charge, tapi juga power bank dan kamera.
  • Hanya signal Telkomsel yang bisa ditangkap di Pantai Ora, meski itu juga untung-untungan. Provider lain…wasalam..

Berangkaaattttt……..
transportasi ke pantai ora

  •  Tiba di Bandara Pattimura, Ambon, langsung dijemput oleh driver Ora beach Resort untuk menuju ke Pelabuhan Tulehu, Ambon. Waktu tempuh bandara ke pelabuhan sekitar 40 menit. Saat itu kami berhenti sejenak untuk sarapan nasi kuning disebuah warung kecil pinggir jalan, biar kecil dan sederhana nasi kuningnya enak lohhh…dan yang terpenting murah meriah. Dengan menu nasi kuning, ikan cakalang, bihun, sayur dan air putih, kami cukup membayar Rp 10.000,- untuk 2 orang. hehehe. Oiya, Ambon punya julukan “The City of Music” jadi jangan kaget ya kalau tiba-tiba ada kendaraan umum lewat dengan suara musik yang membahana…hehehe.
  • Mampirlah ke ATM untuk mengambil uang cash secukupnya saat masih di Ambon, karena ATM jarang ada di pulau Seram Pulau Seram apa lagi di Ora Beach Eco Resort..
  • Pukul 09.00 WIT adalah jadwal penyebrangan kapal Express Cantika 88 yang akan membawa kita menuju ke pelabuhan Amahai di pulau Seram. Waktu tempuh sekitar 2 jam. Harga tiket kapal ekonomi sekitar Rp115.000, sedangkan VIP Rp 210.000,-. Silahkan konfirmasi saat booking jika ingin merubah tiket ke VIP. Ya sesuai nama dan harga, ruang VIP jauh lebih nyaman, lengkap dengan fasilitas ac, kursi yang lebih nyaman dan tv plasma yang digunakan untuk memutar film. Tapi jangan kaget kalo plasma ini juga kadang memutar lagu-lagi karaoke asli ambon dengan suara sangat keras sekali. The City of Music..remember? jadi nikmati aja.
  • Akan banyak kuli angkut barang di pelabuhan Tulehu dan pelabuhan Amahai, yang suka tiba-tiba main angkut barang saja, padahal tidak kita minta. Nantinya mereka akan mematok harga yang terkadang terlalu mahal. Saran saya sebaiknya bawalah Tas anda masing-masing jika memang masih mampu. Jaga tas anda dan berani bilang tidak jika memang tidak memerlukan jasa kuli angkut.
  • Dari pelabuhan  Amahai, perjalanan dilanjutkan dengan jalan darat menggunakan kendaraan selama 2 jam menuju Desa Saleman. Jalanan yang ditempuh cukup berliku-liku dan biasanya driver menyetir dengan cukup kencang, jadi bagi yang mudah mual jangan lupa bawa obat mual.
  • Setibanya di pelabuhan transit Desa Saleman, kita tinggal menyeberang dengan menggunakan perahu kecil selama 10 menit untuk akhirnya tiba di Ora Beach Eco Resort.
Ora Beach Eco

And you’re in Ora Beach ….
Kami jatuh cinta seketika dengan tempat ini! Suasananya begitu tenang, hanya suara deru ombak, gerimis hujan, angin, burung dan jangrik yang setiap hari kami dengar, plus suara orang berbicara sama mesin kapal pastinya. Benar-benar tempat sempurna untuk mencari ketenangan dan inspirasi, just back to nature…no phone call, no internet!! Dari atas dermaga saja, keindahan terumbu karang dan ikan-ikan kecil yang menari-nari sudah bisa dinikmati. Air laut yang tampak biru dan jernih ditambah dengan panorama Perbukitan Taman Nasional Manusela yang hijau sungguh merupakan pesona yang memanjakan mata, sebuah karya ciptaan Tuhan yang begitu indah. Tidak mengherankan jika ada artikel di majalah travel yang saya pernah saya baca, menyebut perairan Ora ini sebagai surga dunia (heaven on earth).

ora beach eco resort
pantaiora5

Dari atas dermaga, panorama bawah laut Pantai Ora sudah bisa dinikmati.

Banyak tempat-tempat yang tidak kalah indah yang bisa kita kunjungi selama berada di Pantai Ora, beberapa diantaranya memang biasanya sudah termasuk dalam paket trip. Saya pribadi sangat sedih saat melihat banyaknya coretan tangan pada dinding tebing batu di beberapa tempat yang saya datangi di kawasan Pantai Ora, dan tidak habis pikir mengapa tega merusak keindahan tebing putih itu dengan coretan-coretan tidak jelas yang justru mengganggu mata. Apakah vandalisme telah menjadi budaya di negeri Ini? Come on, negeri kita ini Indah jangan dirusak please.

Saat air laut surut sebaiknya jangan melakukan kegiatan snorkeling karena fins (kaki katak) yang kita pakai dapat merusak terumbu karang. Selain itu jika kulit kita tergesek dengan batu karang, rasanya lumayan sakit dan terkadang seperti terbakar. Meski pantainya sangat indah dan pemandangan bawah airnya sangat menggoda kami meminta guide untuk membawa kami ke laut yang lebih dalam. Butuh 1 tahun untuk menumbuhkan 1 cm karang, kami tidak akan tega merusaknya. Jangan sungkan-sungkan mengobrol dengan guide dan warga lokal, karena akan banyak sekali informasi yang bisa kita dapat mereka.

pulau batu

Pulau Batu, salah satu spot snorkeling. sayang sekali bayak coretan pada tebing batunya.

mata air belanda

Mata air Belanda, mata air tawar yang konon pertama kali ditemukan oleh orang Belanda.

snorkeling

Snorkeling, kegiatan wajib yang harus dilakukan selama berada di Pantai Ora.

lobster

Beli lobster dulu buat makan malam.

sungai selawai

Sungai Selawai, yang dikiri-kanannya ditumbuhi pohon sagu

pembuatan sagu

Pelajaran membuat sagu, makanan pokok sebagian masyarakat di Indonesia Timur.

aktivitas di pantai ora

Beberapa aktivitas yang bisa dilakukan di Ora Beach eco resort

new friends

Teman-teman baru yang kami temui selama berada di Ora. Para pengagum alam Indonesia.

Perjalanan ke Pantai Ora kemarin, benar-benar sangat berkesan bagi saya pribadi. Senang rasanya bisa belajar hal-hal baru dari penduduk lokal, mulai dari cara membuat sagu tradisional, memancing hingga memasak kue tradisional. Kami mendapatkan tidak hanya pengalaman yang indah selama di Ora, tetapi juga teman-teman baru sesama traveler yang mengagumi alam Indonesia. Kami saling berbagi pengalaman perjalanan, tips-tips, saling menunjukkan foto-foto dari berbagai tempat eksotis di Negeri Ini dan tentu saja berakhir dengan merencanakan trip bersama 2015 ke tempat eksotis lainnya di Indonesia. Kami memang hanya berdua saat pergi ke Ora, tapi kami pulang dengan 10 teman baru yang meski berbeda suku, profesi tapi memiliki misi yang sama untuk menunjukkan betapa indahnya Indonesia.

RachmaRachma Kaolina | instagram.com/rachmakaolina
A sea & coffee lover, graphic designer, illustrator, excited about paper art & photography, who never gives up on Indonesia!

+ There are no comments

Add yours