Loyang Raksasa di Kaki Gamalama

Loyang Raksasa di Kaki Gamalama


Loyang raksasa di kaki Gamalama. Penuh pesona, misteri, dan legenda.

Tidak seperti Danau Toba di Sumatera Utara atau Sentani di Jayapura, Papua. Terletak sekitar 10 km dari Kota Ternate, Maluku Utara, pesona Danau Tolire tak begitu dikenal di Nusantara. Tolire tak populer sebagai objek wisata, tapi lebih dikenang sebagai bagian dari jejak sejarah rakyat Ternate. Kala berjuang mengusir kolonialisme Portugis dari Maluku.

Hanya ada satu jalur darat untuk sampai di kawasan Tolire. Dari pelabuhan Dufa dufa yang sibuk, sekitar lima belas menit perjalanan darat, kita melewati jalanan berkelok diapit perbukitan dan tubir pantai Ternate yang berombak perlahan. Dari lereng gunung api tertinggi di Maluku Utara, Gunung Gamalama, Tolire menyerupai sebuah loyang raksasa.

Warga setempat menyebutnya Tolire Besar. Sekitar 200 meter darinya terdapat danau serupa, berukuran jauh lebih kecil dan disebut Tolire Kecil. Tolire besar berair tawar, sementara Tolire Kecil berair payau, karena hanya berjarak kurang 50 meter dari pantai. “Tolire Kecil berasal dari Tolire Besar,” tutur Hasan, warga setempat yang memandu penulis.

tolire (7)

Leluhur masyarakat Ternate percaya, dahulu Tolire Besar dan Tolire Kecil adalah sebuah kampung yang makmur. “Penguasa alam semesta mengutuk kampung ini menjadi danau, disebabkan oleh seorang ayah di kampung itu menghamili anak gadisnya sendiri,” terang Hasan. Tolire Besar diyakini tempat si ayah, dan Tolire Kecil tempat si anak gadis.

Puncak Gamalama tampak begitu megah dari tepian danau berwarna kehijauan itu. Di sisi kiri-kanan danau, reruntuhan puluhan benteng Portugis tampak menyembul di kaki Gamalama. Seperti tumpukan puing tak beraturan, porak-poranda oleh kebiadaban perang. Sayang sekali, situs bersejarah Maluku itu berceceran di sana-sini, tak lagi tersentuh tangan manusia.

Tolire besar menjadi habibat nyaman bagi beragam ikan air tawar. Danau seluas 5 ha ini ibarat empang besar tanpa pernah dipanen. Warga setempat meyakini, adalah pantangan mengambil ikan Danau Tolire. Hingga kini, tak satu pun dijumpai pencari ikan atau pemancing nekad yang mencoba peruntungan. Sekadar mandi atau menyiram badan dengan air danau, adalah tindakan yang dipandang gegabah.

Memasuki kawasan danau, selain jajaran pohon nyiur di kanan-kiri jalan, Anda akan disambut deretan nisan pejuang Ternate. Mereka adalah para patriot Tanah Air, yang setia mengusir penjajah Portugis yang serakah berburu rempah-rempah. Terbuat dari batu gunung yang diukir, nisan berderet mengitari bangunan makam Sultan Baabullah (1528 – 1583) yang sederhana.

Danau-Tolire-Ternate (2)

 

Baabullah adalah Sultan Ternate ke-24, yang dikenal memerintah dengan bijaksana antara 1570 – 1583. Baabullah meneruskan perjuangan ayahnya, Sultan Khairun, yang memerintah Ternate dari 1535 – 1570. Namanya begitu harum di hati warga Maluku sebagai pejuang kemerdekaan. Baabullah disebut sebagai Sultan Ternate dan Maluku terbesar sepanjang sejarah.

Berhasil mengalahkan Portugis dan mengantarkan Ternate ke puncak keemasan di akhir abad ke-16, ia digelari penguasa 72 pulau, meliputi pulau-pulau di nusantara bagian timur. Termasuk Mindanao Selatan dan Kepulauan Marshall yang legendaris.

Selain bentuknya unik, ketenangan Tolire menyimpan legenda menarik. Airnya yang nyaris tak beriak menambah hijau pekat di saat musim panas, dan berubah menjadi coklat saat hujan tiba. Dari waktu ke waktu, volume airnya tak tampak berkurang atau bertambah.

Sejak dulu, ketenangan Tolire memang membuhul kisah menarik. Tak ada yang tahu seberapa dalam dasar danau. Tradisi lisan masyarakat Ternate menuturkan, kedalaman danau diyakini berkilo-kilo meter, dan terhubung dengan lautan yang tak jauh dari danau.

Warga Ternate dan sekitar meyakini, banyak harta karun tersimpan di kedalaman Tolire Besar. Tumpukan logam mulia dan perhiasan itu milik masyarakat Kesultanan Ternate. Mereka terpaksa menguburnya ke dasar danau, demi menghindari rampasan tentara Portugis pada awal abad 15.

Sejauh ini, belum pernah dilakukan penyelidikan mendalam untuk membuktikan kebenaran cerita tersebut. Dinas pariwisata Kota Ternate sendiri tak pernah ada niatan melakukannya. Beberapa tahun silam, seorang peneliti partikelir di Maluku mencoba meneliti dengan menggunakan sonar.

Dari berhari-hari penyelidikannya, dosen di sebuah kampus negeri di Maluku Utara ini mengaku berhasil mendeteksi tumpukan harta karun di dasar danau. “Terdapat tumpukan besar benda-benda logam mulia di sana,” tutur Ahmed, seorang jurnalis asal Ternate yang mendampingi penulis.

Di hari-hari besar dan musim liburan, Tolire Besar kerap dikunjungi warga Maluku dan sekitar. Termasuk warga sejumlah kota besar di Tanah Air. Tak sekadar berwisata atau ziarah ke makam para pejuang Ternate, banyak yang sekadar berniat mengobati rasa penasaran.

Selain itu, tak sedikit juga yang datang berbondong-bondong demi mencari peruntungan. Yang terakhir ini tak hanya dilakukan warga sekitar. Hasan bercerita, sejumlah pejabat tinggi negara ia jumpai berkunjung di bulan-bulan tertentu. Di antara mereka, selain berwisata, datang khusus untuk menemui sang jurukunci Tolire, Pak Ali.

Jika sempat berkunjung ke Tolire, Anda akan menyaksikan para pengunjung bergantian melempar batu kerikil yang disediakan di tepian danau. Mereka penasaran, kendati permukaan air hanya berjarak sekira 50 meter dari tubir, batu yang mereka lempar tak akan bisa menyentuh permukaan danau.

Para pengunjung tampak berlomba, untuk menguji kebenaran legenda Tolire, bahwa permukaan danau tak bisa tersentuh. Dari amatan penulis, tak satu pun lemparan batu pengunjung berhasil menyentuh permukaan danau.

Keanehan serupa dialami Iqbal, kontributor foto sebuah majalah lingkungan terkemuka. Beberapa kali berkunjung, dengan sekuat tenaga melempar batu ke permukaan danau, lemparannya tak kunjung berhasil menyentuh permukaan danau.

Secara geologis, banyak yang berpendapat, bukan kekuatan gaib yang membuat terori gravitasi seperti tak berlaku. Itu hanya fenomena alamiah tertentu saja. Mereka meyakini, terdapat zat tertentu dalam danau itu, yang dapat mengurai gravitasi, sehingga batu seperti melayang begitu dijatuhkan.

Kepada penulis, Iqbal mengaku seharian gagal mengambil gambar permukaan danau. Ia penasaran mendegar cerita warga setempat, ada puluhan buaya putih berukuran besar menghuni dasar danau. Ia sempat memutuskan menginap untuk bisa menjepret kemunculan ratusan reptil penghuni danau di saat pagi dan petang hari.

Kendati tak dikenakan biaya, mengunjungi Tolire terasa seperti wisata yang tak biasa. Dari pusat Kota Ternate, Anda bisa menyewa mobil carteran seharga Rp 400 ribu per hari. Bisa juga dengan menyewa ojek sepeda motor, yang rata-rata bertarif Rp 20 ribu per jam.

Obyek wisata lain yang bisa dinikmati adalah panorama puncak Gunung Gamalama, termasuk puluhan benteng kuno peninggalan Portugis. Jangan lewatkan keindahan pasir putih di Pantai Sulamadaha, yang lokasinya tiga kilomerer dari Tolire Besar. Dari sini, pengunjung bisa menyewa perahu untuk memancing ikan atau menyelam, menyaksikan keindahan panorama bawah laut.

Masih ingat gambar deretan gunung dalam pecahan uang kertas seribu perak? Itulah Pulau Tidore. Letaknya bersebelahan dengan Pulau Ternate. Jika berminat ke sana, Anda perlu merogoh kocek lebih dalam, karena harus menyeberang pulau dalam dua jam perjalanan. Speedboat sewaan banyak berjajar di Pelabuhan Ternate dan tepian pantai sekitar.

Selain keindahan alamnya, yang menyimpan banyak kekayaan alam, Anda bisa mengunjungi situs sejarah penting lain. Setelah mengantongi izin dari penjaga Istana Ternate, Anda bisa masuk dan berfoto di depan masjid Kesultanan, termasuk Istana Baabullah yang indah.

Jangan lupa, sebelum kembali ke kampung halaman, tak lengkap jika Anda melewatkan oleh-oleh khas pulau rempah ini. Ada sambal goreng ikan teri, lalampa (lemper isi ikan), serta ikan cakalang fufu bakar. Semua bisa Anda peroleh di sejumlah pasar tradisional Kota Ternate.

 

Anom PrasetyoAnom B. Prasetyo | @anombprasetyo
Penulis, peneliti, editor, dan penggemar jalan-jalan. Menulis sejumlah buku. Tinggal di Bogor, Jawa Barat

1 comment

Add yours

Leave a Reply to agus budiman Cancel reply